Cerpen Remaja: Wulan dan Gigi Berlubang
16/12/2008
“Ma, pokoknya aku nggak bakal mau ke dokter gigi lagi. Aku benci dokter gigi.”
“Duh, jangan benci sama dokter gigi dong, sayang.”
“Nggak, Ma. Aku benci sama dokter gigi. Titik.”
“Kalau dokter gigi nya ganteng gimana? Kamu tetap benci?”
“Iya.”
“Duh, kalau suami kamu nanti ternyata dokter gigi gimana?”
“Nggak bakal. Aku nggak bakal mau nikah sama dia.”
“Jadi beneran nggak mau sama dokter gigi nih?”
“Iya, bener.”
“Tapi Mama pengen punya menantu dokter gigi, gimana dong?”
“Duh, Mama bikin pusing aja.”
Percakapan ini terjadi ketika aku pulang dari dokter gigi dan efek obat penghilang rasa sakit itu hilang.
---
Hari ini adalah hari minggu.
Biasanya aku suka hari ini, tapi nggak buat hari minggu yang ini.
Karena hari ini, Mama bilang mau bawa aku ke tempat dokter gigi.
Kalau dipikir-pikir, mana ada dokter gigi yang buka praktek di hari minggu.
Tapi, tempat praktek yang bakal aku datangi sama Mama ini punya temennya Mama. Jadi khusus
buat hari ini, temennya Mama itu nerima satu pasein ditanggal merah. Siapa lagi kalau bukan aku?
Asal kalian tau ya, aku itu dari dulu nggak suka sama dokter gigi.
Kalau ditanya kenapa, karena dulu, pas aku kelas 2 SD, Mama pernah bawa aku buat meriksa gigi, terus kata dokternya gigi aku ada yang harus ditambal. Jadi gigi aku ditambal.
Saat otw pulang, semua apotik yang kami lewati sudah tutup. Nggak tau kenapa.
Sama seperti hari ini, waktu itu aku juga pergi ke dokter gigi yang sama dihari yang sama, hari minggu.
Jadi, resep obat yang dikasih sama Tante Felisha, dokter gigi itu, nggak jadi aku tebus.
Fyi, Tante Felisha adalah teman dekat Mama saat SMA.
Akibatnya, baru aja nginjakin kaki ke dalam rumah, gigi yang ditambal dokter itu sakit-sakit-sakit banget. Aku langsung nangis kejer.
Kata Papa, “Itu palingan karena efek obat penghilang rasa sakit nya udah hilang.”
Terus Mama bilang ke aku, “Tahan aja ya sakitnya? Nanti juga hilang sendiri.”
Aku nggak terima dong kalau disuruh nahan sakit kayak gini, jadi aku ngerengek. Eh, malah diomelin, “Itu makanya, sakit kan? Coba deh kamu dulu rajin gosok gigi, nggak mungkin gigi kamu ditambal kaya gini.” Dan bla..bla..bla… bayangin deh, lagi sakit gigi plus diomel Mama, itu rasanya kayak gimana.
Itu momen yang sangat tidak bisa dilupakan. Bahkan aku masih ngeri kalau ngingat tentang rasa sakitnya.
Karena dokter gigi itu dokter Felisha, temennya Mama, jadi aku nggak benci sama dokter gigi. Bahkan aku mau jadi dokter gigi, niat awalnya sih biar aku bisa nambal gigi orang terus nggak aku kasih resep obat, pas efek obat penghilang rasa sakitnya habis, pasein aku bakal ngerasain sakit kayak yang aku rasain *smirk*
Dan, hari ini, diusia 16 tahun, aku kembali dihadapkan pada kondisi ini: Mama ngajak ke dokter gigi.
Ah, rasanya pengen menghilang sekejap dari bumi ini.
“Ayo dong sayang, kamu udah lama nggak periksa gigi. Cuma periksa kok, kalau gigi kamu bagus, nggak bakal ditambal. Percaya deh sama Mama.” Bujuk Mama hari itu.
Dengan itu, aku dengan sangat-sangat-sangat berat hati, mengiyakan ajakan Mama.
Jadi, disinilah aku. Didalam mobil, sedang dalam perjalanan menuju ke tempat praktek Tante Felisha.
Mama yang nyetir, soalnya aku belum punya SIM. Tahun depan baru aku buat SIM.
“Jangan tegang gitu dong mukanya. Santai aja, sayang.” Tegur Mama saat kami telah sampai ditempat praktek dokter Felisha.
Jujur saja, sebenarnya aku ketakutan sekarang. Belakangan ini, gigi geraham sebelah kanan ku belakangan ini terasa sakit. Aku juga nggak tahu kenapa.
“Ma, kalau gigi aku ditambal lagi gimana?” Tanyaku was-was.
“Ya mau gimana lagi? Kalau kata dokternya harus ditambal, ya ditambal.” Jawab Mama enteng.
DEG.
***
“Long time not see you, Nit.”
“Long time not see you too, Fel.”
Tante Felisha dan Mama cipika cipiki ala ibu-ibu pada umumnya. Aku cuma pasang senyum kaku.
“Hai Wulan, kamu udah gede aja sekarang. Apa kabar?” Sapa Tante Felisha kepadaku.
“Baik kok, Tan. Tante sendiri?” balasku basa-basi.
“Baik juga kok. Bentar ya, kita nunggu anak tante dulu. Dia yang bakal meriksa kamu.” Jawab Tante Felisha.
“Wah, Andi sekarang udah jadi dokter gigi ya?” Tanya Mama yang dibalas anggukan oleh Tante Felisha.
Ditengah kebingunganku tentang dokter-gigi-yang-merupakan-anak-Tante-Felisha-yang-bernama-Andi, pintu dibuka oleh seorang pria jangkung yang tampan dengan garis rahang yang terpahat sempurna, mata bulat, alis mata tebal, dan bulu mata lentik yang manis.
“Wah, Fel, ini Andi?” Tanya Mama spontan.
Si-Andi-ini langsung mencium tangan Mama dengan sopan, “Tante Nita apa kabar?”
“Tante baik kok. Kamu beneran Andi?” Mama masih terlihat linglung melihat si Andi ini.
“Iya, tan. Ini Andi. Andi nggak punya kembaran kok, hehe.” Cengirnya.
“Oh iya, Ndi. Ini anaknya Tante Nita. Wulan. Kamu inget?” Tante Felisha tiba-tiba saja sudah berada disampingku.
Si Andi tadi memakai jas putih yang terlampir di gantungan dan memakainya. Lalu mengulurkan tangannya, mengajak berkenalan.
“Ingat, kok. Hallo, Wulan.”
Dengan kaku aku membalas uluran tangannya, “Hallo, Andi.”
Duh, nggak pake senyum kenapa? Nanti aku diabetes.
“Ndi, periksa tuh pasien kamu. Mama sama Tante Nita ada urusan diluar.” Pamit Tante Felisha, yang dibarengi senyum lebar dari Mama.
Kalau begini ceritanya, pasti Mama sengkongkol sama Tante Felisha buat ninggalin aku sama si Andi ini.
“Hati-hati ya, Ndi. Anak Tante itu takut sama dokter gigi.” Ucap Mama sebelum meninggalkan aku dan Andi disini. Benar-benar hanya berdua.
Jeng jeng jeng!!!
Awkward moments.
“Silahkan duduk disini.” Suruhnya sambil menunjuk ‘kursi panas’ untukku.
“Gigi seri kamu bagus. Tapi geraham kanan kamu kayaknya ada masalah deh.”
Deng!
Kalimat terakhir itu nggak pengen aku denger.
“Gigi geraham kamu lubang. Perlu aku tambal.”
Tuhan, hilangkan aku dari dunia ini.
“Ditambal sekarang atau kamu mau nanya Mama kamu dulu?” Nada bicaranya terdengar ramah. Tapi aku justru semakin ketakutan.
“Harus banget ya ditambal?” Tanyaku tak menghiraukan kalimat tanyanya barusan.
Dia mengangguk yakin. “Kalau nggak ditambal nanti lubangnya tambah besar.”
“Jangan takut. Nggak sesakit yang kamu pikirkan kok.” Kalimat penenangnya tak berpengaruh apapun untukku.
“Lagian juga lubangnya kecil. Kalau dibiarin dia bakal membesar, dan kalau ditambal akan lebih sakit.” Lanjutnya.
Aku masih bimbang.
Tambal. Enggak. Tambal. Enggak.
“Yaudah, kamu mikir dulu ya. Aku keluar bentar. Bentar aja.” Ucapnya lalu bangkit berdiri dan keluar dari ruangan ini.
Kalau melarikan diri dari sini dosa nggak ya?
Dokter Andi keluar dari ruangan ini. Aku punya kesempatan untuk melarikan diri saat ini.
“Ma, pokoknya aku nggak bakal mau ke dokter gigi lagi. Aku benci dokter gigi.”
“Duh, jangan benci sama dokter gigi dong, sayang.”
“Nggak, Ma. Aku benci sama dokter gigi. Titik.”
“Kalau dokter gigi nya ganteng gimana? Kamu tetap benci?”
“Iya.”
“Duh, kalau suami kamu nanti ternyata dokter gigi gimana?”
“Nggak bakal. Aku nggak bakal mau nikah sama dia.”
“Jadi beneran nggak mau sama dokter gigi nih?”
“Iya, bener.”
“Tapi Mama pengen punya menantu dokter gigi, gimana dong?”
“Duh, Mama bikin pusing aja.”
Percakapan ini terjadi ketika aku pulang dari dokter gigi dan efek obat penghilang rasa sakit itu hilang.
---
Hari ini adalah hari minggu.
Biasanya aku suka hari ini, tapi nggak buat hari minggu yang ini.
Karena hari ini, Mama bilang mau bawa aku ke tempat dokter gigi.
Kalau dipikir-pikir, mana ada dokter gigi yang buka praktek di hari minggu.
Tapi, tempat praktek yang bakal aku datangi sama Mama ini punya temennya Mama. Jadi khusus
buat hari ini, temennya Mama itu nerima satu pasein ditanggal merah. Siapa lagi kalau bukan aku?
Asal kalian tau ya, aku itu dari dulu nggak suka sama dokter gigi.
Kalau ditanya kenapa, karena dulu, pas aku kelas 2 SD, Mama pernah bawa aku buat meriksa gigi, terus kata dokternya gigi aku ada yang harus ditambal. Jadi gigi aku ditambal.
Saat otw pulang, semua apotik yang kami lewati sudah tutup. Nggak tau kenapa.
Sama seperti hari ini, waktu itu aku juga pergi ke dokter gigi yang sama dihari yang sama, hari minggu.
Jadi, resep obat yang dikasih sama Tante Felisha, dokter gigi itu, nggak jadi aku tebus.
Fyi, Tante Felisha adalah teman dekat Mama saat SMA.
Akibatnya, baru aja nginjakin kaki ke dalam rumah, gigi yang ditambal dokter itu sakit-sakit-sakit banget. Aku langsung nangis kejer.
Kata Papa, “Itu palingan karena efek obat penghilang rasa sakit nya udah hilang.”
Terus Mama bilang ke aku, “Tahan aja ya sakitnya? Nanti juga hilang sendiri.”
Aku nggak terima dong kalau disuruh nahan sakit kayak gini, jadi aku ngerengek. Eh, malah diomelin, “Itu makanya, sakit kan? Coba deh kamu dulu rajin gosok gigi, nggak mungkin gigi kamu ditambal kaya gini.” Dan bla..bla..bla… bayangin deh, lagi sakit gigi plus diomel Mama, itu rasanya kayak gimana.
Itu momen yang sangat tidak bisa dilupakan. Bahkan aku masih ngeri kalau ngingat tentang rasa sakitnya.
Karena dokter gigi itu dokter Felisha, temennya Mama, jadi aku nggak benci sama dokter gigi. Bahkan aku mau jadi dokter gigi, niat awalnya sih biar aku bisa nambal gigi orang terus nggak aku kasih resep obat, pas efek obat penghilang rasa sakitnya habis, pasein aku bakal ngerasain sakit kayak yang aku rasain *smirk*
Dan, hari ini, diusia 16 tahun, aku kembali dihadapkan pada kondisi ini: Mama ngajak ke dokter gigi.
Ah, rasanya pengen menghilang sekejap dari bumi ini.
“Ayo dong sayang, kamu udah lama nggak periksa gigi. Cuma periksa kok, kalau gigi kamu bagus, nggak bakal ditambal. Percaya deh sama Mama.” Bujuk Mama hari itu.
Dengan itu, aku dengan sangat-sangat-sangat berat hati, mengiyakan ajakan Mama.
Jadi, disinilah aku. Didalam mobil, sedang dalam perjalanan menuju ke tempat praktek Tante Felisha.
Mama yang nyetir, soalnya aku belum punya SIM. Tahun depan baru aku buat SIM.
“Jangan tegang gitu dong mukanya. Santai aja, sayang.” Tegur Mama saat kami telah sampai ditempat praktek dokter Felisha.
Jujur saja, sebenarnya aku ketakutan sekarang. Belakangan ini, gigi geraham sebelah kanan ku belakangan ini terasa sakit. Aku juga nggak tahu kenapa.
“Ma, kalau gigi aku ditambal lagi gimana?” Tanyaku was-was.
“Ya mau gimana lagi? Kalau kata dokternya harus ditambal, ya ditambal.” Jawab Mama enteng.
DEG.
***
“Long time not see you, Nit.”
“Long time not see you too, Fel.”
Tante Felisha dan Mama cipika cipiki ala ibu-ibu pada umumnya. Aku cuma pasang senyum kaku.
“Hai Wulan, kamu udah gede aja sekarang. Apa kabar?” Sapa Tante Felisha kepadaku.
“Baik kok, Tan. Tante sendiri?” balasku basa-basi.
“Baik juga kok. Bentar ya, kita nunggu anak tante dulu. Dia yang bakal meriksa kamu.” Jawab Tante Felisha.
“Wah, Andi sekarang udah jadi dokter gigi ya?” Tanya Mama yang dibalas anggukan oleh Tante Felisha.
Ditengah kebingunganku tentang dokter-gigi-yang-merupakan-anak-Tante-Felisha-yang-bernama-Andi, pintu dibuka oleh seorang pria jangkung yang tampan dengan garis rahang yang terpahat sempurna, mata bulat, alis mata tebal, dan bulu mata lentik yang manis.
“Wah, Fel, ini Andi?” Tanya Mama spontan.
Si-Andi-ini langsung mencium tangan Mama dengan sopan, “Tante Nita apa kabar?”
“Tante baik kok. Kamu beneran Andi?” Mama masih terlihat linglung melihat si Andi ini.
“Iya, tan. Ini Andi. Andi nggak punya kembaran kok, hehe.” Cengirnya.
“Oh iya, Ndi. Ini anaknya Tante Nita. Wulan. Kamu inget?” Tante Felisha tiba-tiba saja sudah berada disampingku.
Si Andi tadi memakai jas putih yang terlampir di gantungan dan memakainya. Lalu mengulurkan tangannya, mengajak berkenalan.
“Ingat, kok. Hallo, Wulan.”
Dengan kaku aku membalas uluran tangannya, “Hallo, Andi.”
Duh, nggak pake senyum kenapa? Nanti aku diabetes.
“Ndi, periksa tuh pasien kamu. Mama sama Tante Nita ada urusan diluar.” Pamit Tante Felisha, yang dibarengi senyum lebar dari Mama.
Kalau begini ceritanya, pasti Mama sengkongkol sama Tante Felisha buat ninggalin aku sama si Andi ini.
“Hati-hati ya, Ndi. Anak Tante itu takut sama dokter gigi.” Ucap Mama sebelum meninggalkan aku dan Andi disini. Benar-benar hanya berdua.
Jeng jeng jeng!!!
Awkward moments.
“Silahkan duduk disini.” Suruhnya sambil menunjuk ‘kursi panas’ untukku.
“Gigi seri kamu bagus. Tapi geraham kanan kamu kayaknya ada masalah deh.”
Deng!
Kalimat terakhir itu nggak pengen aku denger.
“Gigi geraham kamu lubang. Perlu aku tambal.”
Tuhan, hilangkan aku dari dunia ini.
“Ditambal sekarang atau kamu mau nanya Mama kamu dulu?” Nada bicaranya terdengar ramah. Tapi aku justru semakin ketakutan.
“Harus banget ya ditambal?” Tanyaku tak menghiraukan kalimat tanyanya barusan.
Dia mengangguk yakin. “Kalau nggak ditambal nanti lubangnya tambah besar.”
“Jangan takut. Nggak sesakit yang kamu pikirkan kok.” Kalimat penenangnya tak berpengaruh apapun untukku.
“Lagian juga lubangnya kecil. Kalau dibiarin dia bakal membesar, dan kalau ditambal akan lebih sakit.” Lanjutnya.
Aku masih bimbang.
Tambal. Enggak. Tambal. Enggak.
“Yaudah, kamu mikir dulu ya. Aku keluar bentar. Bentar aja.” Ucapnya lalu bangkit berdiri dan keluar dari ruangan ini.
Kalau melarikan diri dari sini dosa nggak ya?
Dokter Andi keluar dari ruangan ini. Aku punya kesempatan untuk melarikan diri saat ini.
Yakin masih bisa benci kalau dokter giginya ganteng keak babang luke
BalasHapusNext nextttt wull
BalasHapusDi tunggu lanjuntan nyaa wull
BalasHapusdokter gigiiiiiii
BalasHapushmmm V:
BalasHapus