Masa Putih Abu-Abu Bukan Masa untuk Pacaran!
Masa-masa putih abu-abu sering dibilang masa-masa tak terlupakan, kalau bahasa inggrisnya itu unforgettable, katanya. Masa-masa putih abu-abu itu adalah waktu yang tepat buat merasakan… apa itu namanya… kalau kata Raditya Dika sih, virus merah jambu. Padahal, B aja sih, toh kita juga tugasnya belajar, dan mencari ilmu. Apa bedanya dengan masa putih merah dan putih biru?
‘Kalau dilihat dari sisi tugas sih, memang sama aja. Tapi kalau udah pake seragam putih abu-abu itu rasanya beda aja gitu… kaya ada manis-manisnya gitu. Kalau kata Blink, cintaku bersemi di putih abu-abu.’
‘Jomblo di masa putih abu-abu itu berarti nggak laku.’ Nyess banget ya yang ini.
Tapi tenang, setelah kalian membaca artikel ini, kalian akan menyadari kalau jadi jomblo itu mulia. Hehe…
sekolah menengah tingkat akhir, seperti yang sedang kita jalani saat ini, tidak hanya identik dengan kata-kata: cinta-cintaan, pacaran, atau gelisah galau merana, aja. Tapi juga identik dengan kata-kata: prestasi, pengembangan bakat, dan persahabatan.
Remaja dan cinta adalah tatanan kata yang memuat potensi luar biasa. Jika tepat memaknainya, hidup akan penuh makna.
Namun jangan berlebihan pada cinta. Kita tidak boleh mencintai ciptaan-Nya lebih dari cinta kita kepada Sang Maha Pencipta.
“….Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-An’am: 141)
Cinta itu fitrah, tapi lebih baik disembunyikan daripada menjadi fitnah. Daripada diumbar-umbar mending mencintai dalam diam kan?
Mencintai dalam diam itu seperti cinta bertepuk sebelah tangan. Lebih baik mengadahkan tangan dan berdoa, “Ya Allah semoga si anu binti bapaknya menjadi pendampingku sehidup sesurga.” Ups… Bacanya jangan sambil senyum-senyum sendiri loh ya.
Nah buat yang sudah mengumbar cintanya, dan sudah di-DORRR!! Lalu diterima cintanya, pastilah berada dalam sebuah hubungan yang bernama PACARAN.
Seperti yang kita tahu, bahwa hukum dasar islam adalah Al-Qur’an dan hadist. Dalam masalah pacaran ini, ternyata bisa kita temukan dalil di dalam Al-Qur’an dan hadits yang melarangnya, ayat tersebut adalah;
وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً
Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS Al-Isra:32)
Mungkin ada yang bertanya-tanya: ‘Lho? Yang nggak dibolehin di Al-Qur’an itu kan zina. Bukan pacaran.’
Zina itu banyak. Diantaranya;
Zina mata memandang lawan jenis dengan perasaan bahagia
Zina pikiran memikirkan lawan jenis dengan perasaan bahagia
Zina mulut menceritakan lawan jenis dengan perasaan bahagia
Zina yang “sebenarnya” (saya rasa kalian mengerti maksudnya)
Pacaran itu gerbang menuju zina. Nah, dikatakan di surah Al-Isra, “Janganlah kamu mendekati zina.”
Dengan berpacaran, kita akan membuka gerbang menuju zina tersebut. Orang yang tidak pacaran saja bisa melakukan zina, apalagi yang jelas-jelas pacaran?
Pikirkan lagi: “Mendekati saja, sudah dilarang, apalagi melakukannya.”
Sedangkan dari hadistnya adalah:
“Janganlah seorang laki-laki berkhalwat (berdua-duaan) dengan seorang wanita bukan mahramnya, dan janganlah seorang wanita bepergian kecuali bersama mahramnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
“Janganlah seorang laki-laki berkhalwat (berdua-duaan) dengan seorang wanita yang tidak hal baginya karena sesungguhnya setan adalah orang ketiga diantara mereka berdua, kecuali bersama mahramnya.” (HR. Ahmad)
Jika sering berdua-duaan antara laki-laki dan perempuan yang belum halal hubungannya semacam pacaran, maka yang ketiga diantara mereka adalah setan. Emang mau ditemani setan? #KaloKitaSihEnggak
Banyak yang beralasan: “Kami pacarannya sehat kok.” , “Kami pacaran islami.” , “Kami pacarannya nggak ngapa-ngapain kok. Cuma SMS-an, kadang telponan. Kami kan LDR.”
Pacaran sehat itu bagaimana? Si cewek dan si cowok makan makanan 4sehat 5sempurna berdua, jogging berdua, senam berdua? Tidak dilakukan bersama pacarpun kegiatan itu bisa dilakukan bukan? Situ sehat?
Pacaran islami itu apalagi?
“Selamat malam. Lagi ngapain sayang?”
“Malam juga. Lagi ngerjain tugas nih. Kamu lagi apa?”
“Lagi tiduran aja. Udah jam 9 nih. Sayang udah sholat?”
Itu yang disebut pacaran islami? Heleh… itu namanya MODUS. Mengingatkan orang untuk sholat sih boleh-boleh saja. Namun, haruskah dengan pacaran? Lagian azan juga berkumandang sebagai pengingat untuk kita agar sholat tepat waktu.
Pacaran jarak jauh alias LDR itu gimana? SMS-an, Line-an, BBM-an itu berduaan kan? Senyum-senyum sendiri baca chat dari si anu, sampai tengah malam. Sekarang renungkan, kalau tidur larut malam, jangankan sholat tahajjud, sholat subuh saja tidak sempat, disekolah ngantuk, dan tidur dikelas. Membawa manfaat atau mudharat?
Pacaran itu ngabisin duit.
Pacaran itu menghabiskan waktu.
Pacaran itu buat gelisah.
Pacaran itu buat kita lupa atas jasa orang tua.
Pacaran itu…. YA HARUS DITINGGALKAN!
“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian; kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran, dan saling menasehati untuk kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 1-3)
Waktu itu nggak bisa diputar, dijilat, terus dicelupin kayak OREO. So, jangan sia-sia kan waktu muda kita untuk sesuatu yang tidak bermanfaat, termasuk pacaran. Banyak kok kegiatan yang bermanfaat yang bisa kamu kerjakan, termasuk ikut ekskul yang ada disekolah.
Emang mau jadi manusia yang merugi? Pedagang aja nggak mau rugi.
Yang perlu diingat, mereka yang benar-benar tulus tidak mengumbar cinta. Mereka itu ngomong “Aku cinta padamu.” bukan sama kamu pertama kalinya. Itu namanya modus. Tapi mereka yang tulus itu dengan segala persiapannya menemui orangtuamu dan berkata, “Aku mencintai anak bapak. Datang kesini untuk melamar anak bapak.” Nah, itu baru cinta yang tulus.
Berjanjilah pada diri sendiri kalau kita akan menjadi JOMBLO SAMPAI HALAL.
Pernah dengar kata-kata, “Jodohmu adalah cerminan dirimu.” Pernah?
“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula)…” (QS. An-Nur: 26)
Jadi, jika kita menginginkan jodoh yang istiqamah dalam beribadah, maka kita juga harus mengistiqamahkan diri di jalan-Nya.
Jangan harap mendapatkan jodoh yang shaleh jika aurat saja masih kita pertontonkan dengan gratis tanpa bayaran.
Dan juga perlu kita ingat bahwa niatkanlah segalanya itu karena Allah. Jadikalah Allah cinta yang tertinggi, cinta yang hakiki.
Jika kita memang menginginkan pendamping hidup yang terbaik, maka bersungguh-sungguhlah memperbaiki diri terus menerus, dari hari ke hari, tanpa berhenti. Senantiasalah belajar, mencari ilmu, dan selalu meningkatkan kualitas diri. Niatkan semuanya karena Allah.
UDAH PUTUSIN AJA!
SUNGGUH ALLAH TELAH MENYIAPKAN JODOH UNTUK KITA SEJAK HARI PERTAMA KITA DILAHIRKAN. SEMUANYA SUDAH TERCATAT DI LAUHUL MAHFUZH.
KITA TIDAK PERNAH TAHU KEMATIAN ATAU JODOH YANG DULUAN YANG DATANG.
BELUM TERLAMBAT UNTUK KEMBALI KE JALAN-NYA.
SEMOGA ALLAH MENGAMPUNI DOSA-DOSA KITA.
‘Kalau dilihat dari sisi tugas sih, memang sama aja. Tapi kalau udah pake seragam putih abu-abu itu rasanya beda aja gitu… kaya ada manis-manisnya gitu. Kalau kata Blink, cintaku bersemi di putih abu-abu.’
‘Jomblo di masa putih abu-abu itu berarti nggak laku.’ Nyess banget ya yang ini.
Tapi tenang, setelah kalian membaca artikel ini, kalian akan menyadari kalau jadi jomblo itu mulia. Hehe…
sekolah menengah tingkat akhir, seperti yang sedang kita jalani saat ini, tidak hanya identik dengan kata-kata: cinta-cintaan, pacaran, atau gelisah galau merana, aja. Tapi juga identik dengan kata-kata: prestasi, pengembangan bakat, dan persahabatan.
Sekarang buat kamu, iya kamu, kamu yang lagi baca artikel ini. Sedang jatuh cinta dengan seseorang kah?
Yang namanya ABG alias anak baru gede, pasti sudah mulai tertarik dengan lawan jenis. Cinta itu sesuatu yang wajar untuk dirasakan. Tidak salah jika kita mencintai.Remaja dan cinta adalah tatanan kata yang memuat potensi luar biasa. Jika tepat memaknainya, hidup akan penuh makna.
Namun jangan berlebihan pada cinta. Kita tidak boleh mencintai ciptaan-Nya lebih dari cinta kita kepada Sang Maha Pencipta.
“….Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-An’am: 141)
Cinta itu fitrah, tapi lebih baik disembunyikan daripada menjadi fitnah. Daripada diumbar-umbar mending mencintai dalam diam kan?
Mencintai dalam diam itu seperti cinta bertepuk sebelah tangan. Lebih baik mengadahkan tangan dan berdoa, “Ya Allah semoga si anu binti bapaknya menjadi pendampingku sehidup sesurga.” Ups… Bacanya jangan sambil senyum-senyum sendiri loh ya.
Nah buat yang sudah mengumbar cintanya, dan sudah di-DORRR!! Lalu diterima cintanya, pastilah berada dalam sebuah hubungan yang bernama PACARAN.
Seperti yang kita tahu, bahwa hukum dasar islam adalah Al-Qur’an dan hadist. Dalam masalah pacaran ini, ternyata bisa kita temukan dalil di dalam Al-Qur’an dan hadits yang melarangnya, ayat tersebut adalah;
وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً
Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS Al-Isra:32)
Mungkin ada yang bertanya-tanya: ‘Lho? Yang nggak dibolehin di Al-Qur’an itu kan zina. Bukan pacaran.’
Zina itu banyak. Diantaranya;
Zina mata memandang lawan jenis dengan perasaan bahagia
Zina pikiran memikirkan lawan jenis dengan perasaan bahagia
Zina mulut menceritakan lawan jenis dengan perasaan bahagia
Zina yang “sebenarnya” (saya rasa kalian mengerti maksudnya)
Pacaran itu gerbang menuju zina. Nah, dikatakan di surah Al-Isra, “Janganlah kamu mendekati zina.”
Dengan berpacaran, kita akan membuka gerbang menuju zina tersebut. Orang yang tidak pacaran saja bisa melakukan zina, apalagi yang jelas-jelas pacaran?
Pikirkan lagi: “Mendekati saja, sudah dilarang, apalagi melakukannya.”
Sedangkan dari hadistnya adalah:
“Janganlah seorang laki-laki berkhalwat (berdua-duaan) dengan seorang wanita bukan mahramnya, dan janganlah seorang wanita bepergian kecuali bersama mahramnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
“Janganlah seorang laki-laki berkhalwat (berdua-duaan) dengan seorang wanita yang tidak hal baginya karena sesungguhnya setan adalah orang ketiga diantara mereka berdua, kecuali bersama mahramnya.” (HR. Ahmad)
Jika sering berdua-duaan antara laki-laki dan perempuan yang belum halal hubungannya semacam pacaran, maka yang ketiga diantara mereka adalah setan. Emang mau ditemani setan? #KaloKitaSihEnggak
Banyak yang beralasan: “Kami pacarannya sehat kok.” , “Kami pacaran islami.” , “Kami pacarannya nggak ngapa-ngapain kok. Cuma SMS-an, kadang telponan. Kami kan LDR.”
Pacaran sehat itu bagaimana? Si cewek dan si cowok makan makanan 4sehat 5sempurna berdua, jogging berdua, senam berdua? Tidak dilakukan bersama pacarpun kegiatan itu bisa dilakukan bukan? Situ sehat?
Pacaran islami itu apalagi?
“Selamat malam. Lagi ngapain sayang?”
“Malam juga. Lagi ngerjain tugas nih. Kamu lagi apa?”
“Lagi tiduran aja. Udah jam 9 nih. Sayang udah sholat?”
Itu yang disebut pacaran islami? Heleh… itu namanya MODUS. Mengingatkan orang untuk sholat sih boleh-boleh saja. Namun, haruskah dengan pacaran? Lagian azan juga berkumandang sebagai pengingat untuk kita agar sholat tepat waktu.
Pacaran jarak jauh alias LDR itu gimana? SMS-an, Line-an, BBM-an itu berduaan kan? Senyum-senyum sendiri baca chat dari si anu, sampai tengah malam. Sekarang renungkan, kalau tidur larut malam, jangankan sholat tahajjud, sholat subuh saja tidak sempat, disekolah ngantuk, dan tidur dikelas. Membawa manfaat atau mudharat?
Pacaran itu ngabisin duit.
Pacaran itu menghabiskan waktu.
Pacaran itu buat gelisah.
Pacaran itu buat kita lupa atas jasa orang tua.
Pacaran itu…. YA HARUS DITINGGALKAN!
“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian; kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran, dan saling menasehati untuk kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 1-3)
Waktu itu nggak bisa diputar, dijilat, terus dicelupin kayak OREO. So, jangan sia-sia kan waktu muda kita untuk sesuatu yang tidak bermanfaat, termasuk pacaran. Banyak kok kegiatan yang bermanfaat yang bisa kamu kerjakan, termasuk ikut ekskul yang ada disekolah.
Emang mau jadi manusia yang merugi? Pedagang aja nggak mau rugi.
Yang perlu diingat, mereka yang benar-benar tulus tidak mengumbar cinta. Mereka itu ngomong “Aku cinta padamu.” bukan sama kamu pertama kalinya. Itu namanya modus. Tapi mereka yang tulus itu dengan segala persiapannya menemui orangtuamu dan berkata, “Aku mencintai anak bapak. Datang kesini untuk melamar anak bapak.” Nah, itu baru cinta yang tulus.
Berjanjilah pada diri sendiri kalau kita akan menjadi JOMBLO SAMPAI HALAL.
Pernah dengar kata-kata, “Jodohmu adalah cerminan dirimu.” Pernah?
“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula)…” (QS. An-Nur: 26)
Jadi, jika kita menginginkan jodoh yang istiqamah dalam beribadah, maka kita juga harus mengistiqamahkan diri di jalan-Nya.
Jangan harap mendapatkan jodoh yang shaleh jika aurat saja masih kita pertontonkan dengan gratis tanpa bayaran.
Dan juga perlu kita ingat bahwa niatkanlah segalanya itu karena Allah. Jadikalah Allah cinta yang tertinggi, cinta yang hakiki.
Jika kita memang menginginkan pendamping hidup yang terbaik, maka bersungguh-sungguhlah memperbaiki diri terus menerus, dari hari ke hari, tanpa berhenti. Senantiasalah belajar, mencari ilmu, dan selalu meningkatkan kualitas diri. Niatkan semuanya karena Allah.
UDAH PUTUSIN AJA!
SUNGGUH ALLAH TELAH MENYIAPKAN JODOH UNTUK KITA SEJAK HARI PERTAMA KITA DILAHIRKAN. SEMUANYA SUDAH TERCATAT DI LAUHUL MAHFUZH.
KITA TIDAK PERNAH TAHU KEMATIAN ATAU JODOH YANG DULUAN YANG DATANG.
BELUM TERLAMBAT UNTUK KEMBALI KE JALAN-NYA.
SEMOGA ALLAH MENGAMPUNI DOSA-DOSA KITA.
Komentar
Posting Komentar